|
NO
|
NAMA PERISTIWA
|
TEMPAT & WAKTU
|
PENYEBAB
|
JALANNYA PERISTIWA
|
TOKOH
|
|
1.
|
Insiden bendera tunjungan
|
Hotel yamato, Jl. Tunjungan no.65 Surabaya, 18
september 1945
|
Pengibaran bendera belanda
(merah-putih-biru)di
tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara, tanpa
persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya.
|
Sekelompok
orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch
Ploegman
pada sore hari tanggal 18
September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera
Belanda
(Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang
pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para
pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda
telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di
Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang
berlangsung di Surabaya.
|
Sudirman,
Sidik, Hariyono
|
|
2.
|
Tindakan Heroik di Ujung Pandang
|
|
|
|
|
|
3.
|
Pertempuran
5 hari di Semarang
|
15
Oktober 1945 (walau kenyataannya suasana sudah mulai memanas sebelumnya) dan
berakhir tanggal 20 Oktober 1945
|
|
Diawali saat kalangan pemuda Semarang
berniat untuk memindahkan 400 orang tawanan Jepang dari pabrik gula Cepiring
ke Penjara Bulu. Diperjalanan sebagian tawanan Jepang berhasil melarikan diri
& meminta perlindungan dari Kido Butai. Keesokannya pasukan Jepang
melakukan serangan dengan merebut kota Semarang dari markasnya di Jatingaleh.
Desas-desus tentang adanya peracunan air minum makin memperkeruh suasana. Dr.
Kariyadi, Kepala Lab Pusat Rumah Sakit Rakyat yang sedang memeriksa air minum
tersebut menjadi korban penembakan. Dalam pertempuran yang berlangsung 5 hari
(15-20 Oktober 1945), sekitar 2000 pemuda gugur dan ratusan lainnya
luka-luka.
|
1. dr. Kariadi
2. Mr.Wongsonegoro Gubernur Jawa Tengah yang
sempat ditahan oleh Jepang.
3. Dr. Sukaryo dan Sudanco Mirza Sidharta
Tokoh Indonesia yang ditangkap oleh Jepang bersama Mr. Wongsonegoro.
4. Mayor Kido (Pemimpin Kidobutai) Pimpinan
Batalion Kidobutai yang berpusat di Jatingaleh.
5. drg. Soenarti Istri dr. kariadi
7. Jenderal Nakamura Jenderal yang ditangkap
oleh TKR di Magelang
|
|
4.
|
Pertempuran medan area
|
Medan,
1 Desember 1945
|
Sebuah insiden terjadi di hotel Jalan Bali, Medan pada
tanggal 13 Oktober 1945. Saat itu seorang penghuni hotel (pasukan NICA)
merampas dan menginjak-injak lencana Merah Putih yang dipakai pemuda
Indonesia.
|
Sebuah insiden terjadi di hotel Jalan Bali, Medan pada
tanggal 13 Oktober 1945. Saat itu seorang penghuni hotel (pasukan NICA)
merampas dan menginjak-injak lencana Merah Putih yang dipakai pemuda
Indonesia. Hal ini mengundang kemarahan para pemuda. Akibatnya terjadi
perusakan dan penyerangan terhadap hotel yang banyak dihuni pasukan NICA.
Pada tanggal 1 Desember 1945, pihak Sekutu memasang
papanpapan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area (batas
resmi wilayah Medan)di berbagai sudut kota Medan
|
Mr.
Teuku Moh Hassan, para
pemuda dan TKR
|
|
5.
|
Pertempuran di Surabaya
|
Surabaya,10 November 1945
|
Terbunuhnya
Brigadir Jenderal Mallaby (Komandan Tentara Inggris)pada tanggal 30 Oktober
1945.
|
Pada tanggal 30 Oktober 1945 terjadi pertempuran yang hebat
di Gedung Bank Internatio di Jembatan Merah. Pertempuran itu menewaskan
Brigjen Mallaby. Akibat meninggalnya Brigjen Mallaby, Inggris memberi
ultimatum, isinya agar rakyat Surabaya menyerah kepada Sekutu. Secara resmi
rakyat Surabaya, yang diwakili Gubernur Suryo menolak ultimatum Inggris.
Akibatnya pada tanggal 10 November 1945 pagi hari, pasukan Inggris
mengerahkan pasukan infantri dengan senjatasenjata berat dan menyerbu
Surabaya dari darat, laut, maupun udara. Rakyat
Surabaya tidak takut dengan gempuran Sekutu. Bung Tomo memimpin rakyat dengan
berpidato membangkitkan semangat lewat radio. Pertempuran berlangsung selama
tiga minggu. Akibat pertempuran tersebut 6.000 rakyat Surabaya gugur
|
Bung
Tomo, Gubernur Suryo.
|
|
6.
|
Pallagan Ambarawa
|
Ambarawa,
20 November sampai tanggal 15 Desember 1945
|
Pertempuran meletus karena Sekutu
secara sepihak membebaskan para interniran Belanda di Magelang dan Ambarawa
|
Pertempuran
Ambarawa dimulai dari insiden yang terjadi di Magelang pada tanggal 26
Oktober 1945. Pada tanggal 20 November 1945 di Ambarawa pecah pertempuran
antara pasukan TKR di bawah pimpinan Mayor Sumarto melawan tentara Sekutu.
Pertempuran Ambarawa mengakibatkan gugurnya Letkol Isdiman, Komandan Resimen
Banyumas. Posisi Letkol Isdiman kemudian digantikan oleh Letkol Soedirman.
Kota Ambarawa berhasil dikepung selama 4 hari 4 malam oleh pasukan RI.
Mengingat posisi yang telah terjepit, maka pasukan Sekutu meninggalkan kota
Ambarawa tanggal 15 Desember 1945 menuju Semarang
|
Mayor
Sumarto, Letkol Isdiman, Letkol Soedirman
|
|
7.
|
Peristiwa Merah Putih di Manado
|
Manado, 14 Februari 1946
|
NICA menangkap para tokoh RI.
|
Pada bulan Desember 1945, pasukan
Sekutu menyerahkan kekuasaan kota Manado kepada NICA. Stelah mendapat mandate
itu, pasukan NICA segera melakukan penangkapan terhadap sejumlah tokoh RI
untuk mengamankan kedudukan RI. Para bekas pasukan KNIL yang mendukung RI
dikenal sebagai Pasukan Tangsi Hitam. Para pejuang itu membentuk Pasukan
Pemuda Indonesia (PPI). PPI sering melakukan pertemuan rahasia untuk mengkoordinasikan
kegiatan melawan NICA. Akan tetapi, kegiatan tersebut diketahui NICA.
Akibatnya, beberapa pemimpin PPI ditangkap. Senjata pasukan KNIL pendukung RI
dilucuti. Namun, tindakan NICA tersebut tidak menyurutkan tekad para pejuang
Indonesia. Pada tanggal 14 Febuari 1946, PPI menyerbu NICA dimarkas Tangsi
Putih di Teling. Dengan senjata seadanya, PPI mampu melepaskan para tawanan
dan melawan komandan NICA dan pasukannya. Secara spontan para pejuang merobek
warna biru pada Bendera Belanda di markas itu dan mengibarkan bendera Merah
putih. Para pejuang juga berhasil menguasai markas NICA di Tomohon dan
Tondano.
|
PPI
|
|
8.
|
Bandung Lautan Api
|
Bandung, 23 Maret 1946
|
Pada tanggal 23 November 1945
pemimpin Sekutu di Bandung mengultimatum agar Bandung Utara segera
dikosongkan dari pemuda bersenjata. Namun, para pemuda menolak menyerahkan
senjata sehingga terjadi pertempuran yang sengit didalam kota
|
Pada tanggal 23 November 1945
pemimpin Sekutu di Bandung mengultimatum agar Bandung Utara segera
dikosongkan dari pemuda bersenjata. Namun, para pemuda menolak menyerahkan
senjata sehingga terjadi pertempuran yang sengit didalam kota. Pertempuran
pertama terjadi pada tanggal 1 Desember 1945. Oleh karena pemerintah RI
Jakarta para pemuda Bandung diminta menghentikan pertempuran dan harus
mengosongkan kota Bandung. Dengan berat hati, para pemuda Bandung
meninggalkan kota. Agar bangunan-bangunann peting di kota Bandung tidak dapat
digunakan Sekutu sambil mundur mereka membakarnya. Peristiwa ini terjadi pada
tanggal 23 Maret 1946. seluruh wilayah kota Bandung diamuk oleh kobaran api.
Peristiwa ini terkenal dengan peristiwa Bandung Lautan Api.
|
Muhammad Toha, Kol. A.H Nasution,
Kolonel Hidayat
|
|
9.
|
Pertempuran Margarana
|
Bali, 20 November 1946
|
Belanda
mendirikan Negara Indonesia Timur (NIT)
|
Perang
Puputan Margarana di Bali diawali dari keinginan Belanda mendirikan Negara
Indonesia Timur (NIT). Letkol I Gusti Ngurah Rai, Komandan Resimen Nusa
Tenggara, berusaha menggagalkan pembentukan NIT dengan mengadakan serangan ke
tangsi NICA di Tabanan tanggal 18 Desember 1946. Konsolidasi dan pemusatan
pasukan Ngurah Rai (yang dikenal dengan nama pasukan Ciung Wanara) ditempatkan
di Desa Adeng Kecamatan Marga. Belanda menjadi gempar dan berusaha mencari
pusat kedudukan pasukan Ciung
Wanara. Pada tanggal 20 November 1946 dengan kekuatan besar Belanda
melancarkan serangan dari udara terhadap kedudukan Ngurah Rai di desa Marga.
Dalam keadaan kritis, Letkol I Gusti Ngurah Rai mengeluarkan perintah
“Puputan” yang berarti bertempur sampai habis-habisan (fight to the end).
Letkol I Gusti Ngurah Rai gugur beserta seluruh anggota pasukan dalam
pertempuran tersebut
|
Letkol
I Gusti Ngurah Rai
|
|
10.
|
Pertempuran di Sulawesi Selatan
|
Makasar, Sulsel
|
Tindakan gubernur tersebut dinilai para
pemuda terlalu hati-hati
|
Di daerah Makasar, Sulsel, Gubernur Sam
Ratulangi berusaha menegakkan kedaulatan Indonesia di wilayahnya dengan cara bertahap.
Tindakan gubernur tersebut dinilai para pemuda terlalu hati-hati, oleh karena
itu, mereka bergerak sendiri untuk menguasai pusat komunikasi, seperti
stasiun radio dan markas polisi. Masuknya pasukan Sekutu dari Australia di
Makasar, mengakibatkan gerakan pemuda Makasar berhasil dikuasai sekutu.
|
Gubernur Sam Ratulangi
|
|
11.
|
Peristiwa Merah Putih di Biak
|
Biak, 14 Maret 1948
|
Sekutu bersama NICA berusaha melarang
kegiatan politik dan pengibaran bendera Merah Putih
|
Berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia
sekalipun terlambat sampai juga di Papua. Rakyat Papua yang ada diberbagai
kota, seperti Jayapura, Sorong, serui dan Biak memberikan sambutan yang
hangat dan mendukung Proklamsi Kemerdekaan Indonesia. Para pemuda di berbagai
kota mengadakan rapat umum mendukung kemerdekaan. Sekutu bersama NICA
berusaha melarang kegiatan politik dan pengibaran bendera Merah Putih, namun
para pemuda Papua tidak menhiraukan. Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan
Indonesia, pada tanggal 14 Maret 1948 terjadi peristiwa Merah Putih di Biak.
Peristiwa ini diawali dengan adanya penyerangan tangsi militer Belanda di
Soroako dan Biak. Selanjutnya, para pemuda Biak yang dipimpin oleh Joseph
berusaha mengibarkan bendera merah putih di seluruh Biak. Usaha ini mendapat
perlawanandari Belanda sehingga mengalami kegagalan. Beberapa pemimpin
perlawananan berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.
|
Rakyat Biak
|
|
12.
|
Serangan umum 1 Maret 1949
|
Yogyakarta, 1 Maret 1949
|
Dalam
agresi militer II, Belanda berhasil menangkap para pemimpin politik dan
menduduki ibukota RI di Yogyakarta. Belanda ingin menunjukkan kepada dunia
bahwa pemerintahan RI telah dihancurkan dan TNI tidak memiliki kekuatan lagi
|
Untuk
memudahkan penyerangan, maka dibentuk beberapa sektor yaitu:
a. sektor Barat dipimpin oleh Mayor Ventje Sumual,
b. sektor Selatan dan Timur dipimpin oleh Mayor Sardjono,
c. sektor Utara dipimpin oleh Mayor Kusno,
d. sektor Kota dipimpin oleh Letnan Amir Murtono dan Letnan Masduki.Pada
malam hari menjelang serangan umum, pasukan-pasukan telah merayap mendekati
kota dan melakukan penyusupan-penyusupan. Pagi hari tanggal 1 Maret 1949
sekitar pukul 06.00 WIB tepat sirene berbunyi, serangan dilancarkan dari
segala penjuru kota. Letkol Soeharto langsung memimpin penyerangan dari
sektor Barat sampai batas Jalan Malioboro. Rakyat membantu memperlancar jalannya penyerangan dengan memberikan bantuan
logistik. Dalam waktu enam jam kota Yogyakarta berhasil dikuasai TNI. Pada
pukul 12.00 WIB tepat, pasukan TNI mengundurkan diri. Hal ini sesuai dengan
rencana yang ditentukan sejak awal. Bersamaan dengan itu bantuan Belanda tiba
dengan kendaraan lapis baja serta pesawat terbang. Belanda melakukan serangan
balasan.
|
Sri
Sultan Hamengku Buwono IX, Letkol
Soeharto
|